Ziarah menjadi kegiatan rutinitas sebagian muslim sebagai mengingat kematian. Aktivitas ini sering dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti meneguhkan iman atau menyucikan diri. Ziarah sendiri biasanya dilakukan di beberapa tempat seperti, wali limo, wali pitu, wali songo, termasuk ziarah di Klaten.

Istilah ziarah berasal dari bahasa Arab dan berasal dari kata zaraa yang artinya ziarah, kunjungan, kunjungan. Secara harfiah, kata ini berarti mengunjungi seseorang yang masih hidup atau sudah meninggal. Secara teknis, kata tersebut mengacu pada sekelompok kegiatan yang melibatkan mengunjungi makam tertentu, seperti makam nabi, sahabat, wali, pahlawan, orang tua, kerabat, dan lain-lain.

1. Sunan Pandan Arang

Ki Ageng Pandan Arang, seorang bupati Semarang atas petunjuk Sunan Kalijaga meninggalkan kota Semarang dan menjadi penyabar agama di daerah pegunungan selatan lalu menetap di Bayat hingga akhir hayat. Makam Tembayat berada di bukit Jabalkat, bangunan berada mulai kaki bukit dengan cungkup utama berada di puncak bukit.

Kompleks Makam Bayat terdapat beberapa gapura dan makam yang lain. Bahan terbuat dari batu putih atau padas. Terdapat tulisan Jawa “Mukti Sarira Heking ratu.” Selain itu tempat ini juga pernah dilakukan pengolahan data kompleks Makam Tembayat, Suaka Peninggalan Sejarah dan purbakala Jawa Tengah.

Lokasinya berada di Mendin, Paseban, Kec. Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

2. KH Muslim Rifai Imampuro

makam Mbah Liem

KH Muslim Rifai imampuro atau yang akrab dipanggil Mbah Liem tergolong kiai yang bersahaja, nyentrik, sering berpenampilan nyleneh, misal dalam menghadiri beberapa acara. Cara berpakaiannya pun tampil seperti ala tentara, yang memakai topi berdasi serta sepatu tentara tapi sarungan.

Bahkan pada saat prosesi upacara pemakaman Mbah Liem pun tergolong tidak seperti umumnya, saat jenazah dipikul dari rumah duka menuju makam di Joglo Perdamaian Umat Manusia sedunia di komplek pesantren diarak dengan tabuhan hadroh “sholawat Thola’al Badrun alainaa” proses pemakamannya pun layaknya Tentara yang menggunakan tembakan salto yang dipimpin langsung oleh TNI/Polri sesuai wasiatnya.

Kiprah Mbah liem di NU untuk NKRI belum banyak orang yang tahu apalagi mendokumentasikannya, hanya setelah beliau wafat sudah mulai ada yang menulis artikel atau cerita-cerita mengenai Mbah Liem di media sosial. Mbah Liem juga dikenal sangat dekat dengan Gus Dur bahkan jauh sebelum Gus Dur menjadi presiden kedua kiai ini sudah saling akrab.

Pidato Mbah liem selalu berbicara tentang kebangsaan dan kenegaraan, kurang lebih kalimatnya “mugo-mugo NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati” (Semoga NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati).

Lokasi makam Mbah Liem berada di Dusun 2, Troso, Kec. Karanganom, Kab, Klaten, Jawa Tengah.

3. Kiai Abdul Mannan

Nama Kiai Abdul Mannan tercatat pernah beberapa kali mewakili NU Cabang Klaten di perhelatan Muktamar NU. Nama beliau tercatat di data lapran sejak Muktamar NU yang pertama pada tahun 1926 dan nama beliaub tercantum dua kali, yakni pada penyelenggaraan Muktamar NU di Kota Surakarta (1935) dan Surabaya (1940).

Jiwa pejuang dari sang kakek mengalir kepada Kiai Abdul Mannan. Di masa perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, ia turut membantu perjuangan Hizbullah, Sabilillah, dan Barisan Kiai di wilayah Klaten. Bahkan, rumahnya dijadikan sebagai tempat perlindungan bagi para pejuan Hizbullah dan Sabilillah.

Selepas masa peperangan, Kiai Abdul Mannan kembali pada aktivitasnya sebagai pegawai di KUA. Ia juga masih mempertahankan aktivitasnya sebagai guru ngaji. Pada tahun 1972, di usia 83 tahun, Kiai Abdul Mannan wafat. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman yang terletak di sebelah barat masjid Al-Ikhlas.

Lokasi berada di Jl. Sidoasih Barat No.1, Purwosari, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

4. Masjid Majasem

Masjid Majasem di Desa Pakahan, Kec. Jogonalan, menjadi saksi penyebaran Islam di Kota Seribu Candi. Masyarakat memercayai, masjid tersebut dibangun para wali dan memiliki pertalian erat dengan Kasunanan Surakarta.

Untuk menyambangi masjid ini tidak sulit. Dari pusat Kota Klaten, lokasi masjid Majasem dapat ditemput sekitar 13 menit menggunakan kendaraan bermotor. Bangunan ini bahkan sudah terlihat ketika memasuki gerbang Dukuh Majasem.

Dahulu kala masjid Majasem merupakan sebuah langgar, bernama Langgar Kalimasada. Langgar tersebut dibangun oleh para wali (penyebar agama Islam) pada tahun 1385 M.

Setelah masa itu, langgar ini sempat tidak terawat. Lalu, pada 1780 M, utusan dari Kraton Kartasura untuk memperbaiki langgar berukuran 10×10 meter persegi tersebut menjadi masjid.

Persis di samping pintu utama masjid, ada sebuah prasasti bertuliskan Masjid Baitul makmur 1385 M Majasem tanggal 6 Januari 2001. Sementara di bagian barat masjid terdapar sebuah kompleks pemakaman kuno. Makam yang terdiri dari puluhan nisan itu yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan Pangeran Ngurawan dan keluarganya.

Masjid dan kompleks Makam majasem telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, yang ditetapkan pada 22 Juni 2010. Lokasinya berada di  7HHC+WQF, Karang Dukuh, Karangdukuh, Kec. Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Itu dia informasi seputar tempat ziarah di Klaten untuk sahabat Nagan yang budiman. Jika kamu membutuhkan jasa rental mobil atau bus, kami selalu siap sedia menemani perjalanan kamu. Hubungi Nagantour langsung untuk mendapatkan informasi detailnya.

Rate this post